Sabtu, 06 Oktober 2012

PENALARAN

PENALARAN 

Assalamualaikum,
Dalam kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang apa itu Penalaran ? Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

Namun ada beberapa definisi menurut para ahli,yaitu :

- Keraf (1985: 5) berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung - hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
·   
-   - Bakry (1986: 1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
·   
      - Suriasumantri (2001: 42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.

Secara sederhana Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dan dapat didefinisikan Penalaran adalah sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.

Contoh penalaran :
Telur 1 direbus dan sudah matang
Telur 2 direbus dan sudah matang
Telur 3 direbus dan sudah matang
Telur 4 direbus dan sudah matang
dan seterusnya
Jika kita tidak menalar kalimat tersebut maka kita akan menyebutkan kalimat itu satu per satu seperti di atas,tetapi jika kita bisa menalar kalimat tersebut maka kita akan menyebutkan bahwa "semua telur sudah matang" dan bukan satu per satu.  
Adapun ciri-ciri Penalaran :
  1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika( penalaran merupakan suatu proses berpikir logis ).
  2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.
Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2, yaitu : Analitik dan Non analitik. Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya, dapat dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.
Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Deduktif yang berujung pada rasionalisme
  2. Induktif yang berujung pada empirisme
Logika merupakan suatu kegiatan pengkajian untuk berpikir secara shahih
Contoh :
  • Ketika seorang pengemis berkata :”kasihanilah saya orang biasa”. Itu merupakan suatu ungkapan yang tidak logis.
  • Ketika seorang peneliti mencari penyebab mengapa orang mabuk? Ada 3 peristiwa yang ditemuinya
  • ada orang yang mencampur air dengan brendi dan itu menyebabkan dia mabuk
  • ada yang mencampur air dengan tuak kemudian dia mabuk
  • ada lagi yang mencampur air dengan whiski kemudian akhirnya dia mabuk juga
Dari 3 peristiwa diatas, apakah kita bisa menarik kesimpulan bahwa air-lah yang menyebabkan orang mabuk?
Logika deduktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus (individual). Sedangkan logika induktif merupakan cara penarikan kesimpulan dari kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir silogisme, dua pernyataan dan sebuah kesimpulan. Dan didalam silogisme terdapat premis mayor dan premis minor.
Contoh :
  • Semua makhluk punya mata ( premis mayor )
  • Si Adam adalah seorang makhluk ( premis minor )
  • Jadi, Adam punya mata ( kesimpulan )
Kriteria kebenaran :
3+4=75+2=76+1=7
Menurut seorang anak kecil, hal ini tidak benar.
Ini membuktikan bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar.
Secara deduktif dapat dibuktikan ketiganya benar. Pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan yang telah dianggap benar. Teori ini disebut koherensi. Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koherensi.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  • Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
 Penalaran itu dibagi menjadi dua bagian yakni :

     1. Penalaran Induktif
     2. Penalaran Deduktif


1. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.

Adapun bentuk-bentuk Penalaran Induktif, Yaitu :

a) Generalisasi :

Generalisasi adalah Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum

Contoh generalisasi :

* Jika dipanaskan, logam memuai.
   Jika dipanaskan, besi memuai.
   Jika dipanaskan, tembaga memuai.
   Jika dipanaskan, emas memuai
   Jadi, jika dipanaskan, platina memuai.

* Jika ada udara, manusia akan hidup.
   Jika ada udara, hewan akan hidup.
   Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
   Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

Adapun generalisasi itu dibagi menjadi 2,yaitu :

1. Generalisasi sempurna (Tanpa loncatan induktif)

Generalisasi Sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.

Contoh :

Sensus Penduduk

2. Generalisasi tidak sempurna (dengan loncatan induktif)

Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.

Contoh: 

Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.   

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna 

Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.

Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
  1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
  2. Sampel harus bervariasi.
  3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.
b) Analogi :

Analogi adalah Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama,yang tujuannya adalah membandingkan dua hal tersebut yang mempunyai sifat yang sama yang dimana nantinya akan diambil kesimpulan sebuah sebab-akibat dengan cara penarikan penalaran

Contoh analogi :

Agung adalah lulusan Akademi Sepak Bola.
Agung dapat Bermain bola dengan baik dan benar.
Ali adalah lulusan Akademi Sepak Bola.
Oleh Sebab itu, Ali dapat Bermain bola dengan baik dan benar.

c) Hubungan kausal :


Hubungan Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.

Macam hubungan kausal :

1) Sebab- akibat.
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.

2) Akibat – Sebab.
Yopi tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.

3) Akibat – Akibat.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.

Induksi merupkan cara berpikir dengan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.




Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Misalkan kita mempunyai fakta bahwa katak makan untuk mempertahankan hidupnya, ikan , sapi, dan kambing juga makan untuk mempertahankan hidupnya, maka dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa semua hewan makan untuk mempertahankan hidupnya.

Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya karena mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis, maskudnya melalui reduksi terhadap berbagai corak dan sekumpulan fakta yang ada dalam kehidupan yang beraneka ragam ini dapat dipersingkat dan diungkapkan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah sekedar koleksi dari berbagai fakta melainkan esensi dan juga fakta-fakta tersebut.

Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dari objek tertentu melainkan menekankan kepada strukstur dasar yang menyangga wujud fakta. Sebagai contoh, bagaimanapun lengkapnya dan cermatnya sebuah pernyataan dibuat untuk mengungkapkan betapa nikmatnya hubungan intim dirasakan seorang wanita atas keinginan suka sama suka dan perihnya hubungan intim karena pemerkosaan, tidak mungkin dapat merreproduksikan hal itu.

Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang bersifat kategoris bahwa hubungan intim atas dorongan suka sama suka indah, nikmat, dan hubungan intim karena pemerkosaan sangatlah menyakitkan. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoritis.

Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih umum lagi. Misalkan dari contoh sebelumnya bahwa kesimpulan semua hewan perlu makan untuk mempertahankan hidupnya, kemudian dari kenyataan bahwa manusia juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya, maka dapat dibuat lagi kesmpulan bahwa semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidupnya. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang main lama makin bersifat fundamental.

2. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif.

Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Penarikkan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi dua yaitu :

1) premsi mayor ,dan
2) premis minor.

Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersbut. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.
Dari contoh sebelumnya misalkan kita menyusun silogisme sebagai berikut.

  - Semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahanka hidupnya (Premis mayor)
  - Irfan adalah seorang mahluk hidup (Premis minor)
  - Jadi, Irfan perlu makan untuk mempertahakan hidupnya (Kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil bahwa Irfan juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya.
Pertanyaan apakah kesimpulan ini benar harus dikembalikan kepada kebenaran premis-premis yang mendahuluinya. Apabila kedua premis yang mendukungnya benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. Mungkin saja kesimpulannya itu salah, meskipun kedua kedua premisnya benar, sekiranya cara penarikkan kesimpulannya tidak sah.

Dengan demikian maka ketepatan penarkkan kesimpulan tergantung dari tiga hal yaitu:
1) kebenaran premis mayor,
2) kebenaran premis minor, dan
3) keabsahan penarikan kesimpulan.

Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratannya tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.

Dan dalam penalaran deduktif mempunyai macam-macam silogisme, yaitu : silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan silogisme entimen.

1. Silogisme Kategorial

Yaitu disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor. Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu :
  • Premis Umum = Premis Mayor (My)
  • Premis Khusus = Premis Minor (Mn)
  • Premis Simpulan = Premis Kesimpulan (K)
dalam premis simpulan terdapat subjek dan predikat. Yang dimana subjek simpulan disebut term mayor, sedangkan predikat simpulan disebut term minor.
Contoh silogisme kategorial :
  • My : Semua atlit sepak bola sangat mahir ketika menendang bola.
  • Mn : Daniel Agger adalah atlit sepak bola.
  • K : Daniel Agger sangat mahir menendang bola.
2. Silogisme Hipotesis

Yaitu terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. konditional hipotesis adalah bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulanya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulanya juga menolak konsekuen.
Contohnya :

  • My : Jika cuaca hujan, maka pertandingan akan dibatalkan.
  • Mn : cuaca hujan.
  • K : Jadi, pertandingan akan dibatalkan.

3. Silogisme Alternatif


Yaitu silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi alternatif. Proposisi alternatif adalah bila premis minornya membenarkan salah satu alternatif dari dua pernyataan.
Contohnya :

  • My : Daniel Agger berposisi sebagai gelandang bertahan atau pemain bertahan.
  • Mn : Daniel Agger berposisi sebagai pemain bertahan.
  • K : Jadi, Daniel Agger bukan berposisi sebagai gelandang bertahan.
4. Silogime Entimen

Yaitu yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan. Dan silogisme ini sangat jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara tulisan maupun lisan. Biasanya hanya dalam sebuah ungkapan.
Contohnya :

  • Pada tahun 2010 Spanyol mendapatkan trofi Piala Dunia karena telah menang dalam pertandingan melawan Belanda.
  • Karena telah memenangkan pertandingan ketika melawan Belanda pada tahun 2010, maka Spanyol berhak mendapatkan trofi Piala Dunia.
Kesimpulan

Didalam penalaran yang telah kita bahas terdapat dua jenis penalan, yakni penalaran Induktif dan penalaran Deduktif. Penalaran Induktif merupakan proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Macam – macam Induksi antara lain generalisasi, analogi dan hubungan Kausal.
Sedangkan penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Sekian penjelasan saya tentang apa itu Penalaran, jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan saya mohon maaf, semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi anda semua.
Wassalamualaikum,
Referensi :

 - Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444  W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006
 - elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/filsafat.../bab6-penalaran.pdf
 - http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
 - http://anjarpras.blogspot.com/2012/04/pengenalan-tentang-penalaran-deduktif.html
 -http://arief021091.wordpress.com/2011/10/27/arti-penalaran-definisi-penalaran-dan-hakikat-penalaran/
 - edykurniawans.blogspot.com/2012/05/definisi-penalaran.html
 - http://irabieber.wordpress.com/2011/10/26/penalaran-deduktif-dan-induktif/
 - google.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar